Hamam minta laman bela-beli Kulon Progo direvitalisasi

Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Hamam Cahyadi mendesak Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah merevitalisasi alaman belabeliku.com sehingga bisa menjadi "marcet place" kembangan bersama.

"Kami minta belabeliku.com bisa menampung semua produk usaha kecil menengah Kulon Progo, dan mampu bersaing dengan "marketplace" taraf nasional lainnya," kata Hamam di Kulon Progo, Kamis.

Ia juga mendorong Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah menyusun "road map" program berkelanjutan terhadap program pelatihan pemasaran secara daring dengan berkesinambangunan, agar nantinya bisa tuntas mendorong kemajuan UKM di Kulon Progo.

"Hal ini penting, supaya seluruh produk lokal buatan pelakua UKM dapat dipasarkan secara daring, dan mereka melek pemasaran daring dan mampu bersaing dengan gempuran produk yang sama dari luar daerah," katanya.

Hamam mengapresiasi pelatihan pemasaran daring kepada 50 duta marketing UMKM Kulon Progo. Ia berharap UKM Kulon Progo semakin meningkat penjualannya dan mampu bersaing dengan produk-produk lainnya yang ada di pasaran saat ini.

Hal ini merupakan terobosan baru di zaman milenial. Duta marketing yang telah mendapatkan pelatihan ini nantinya bisa memicu tumbuhnya pusat pemasaran secara daring.

"Oleh karena itu, kami minta pemkab menyiapkan fasilitas penunjangnya diantaranya UKM Center Kulon Progo sebagai pasar "offline" maupun pasar digital UKM yang ada di Kulon Progo," katanya.

Sementara itu, Bupati Kulon Progo Sutedjo mengatakan data dari Dinas Koperasi UKM Kulon Progo pada 2018, bahwa pelaku usaha mikro sejumlah 38.764, yang terdiri dari usaha mikro dagang ada sebanyak 18.229, mikro industri sebanyak 18.175 yang terdiri dari sektor boga makanan sebanyak 14.050, sedangkan usaha mikro di luar dagang dan industri terdiri dari kelompok tani 1.467, perikanan 447 dan jasa 416.

"Pemerintah Kabupaten Kulon Progo dan DPRD sepakat, berkomitmen agar produk lokal bisa dikenal lebih luas melalui pasar daring," kata Sutedjo.

Ia mengatakan UKM yang ada di Kabupaten Kulon Progo masih banyak yang usaha mikro. Usaha mikro ini biasanya memiliki modal yang terbatas, bahkan masih ada yang miskin dengan modal yang kecil bahkan sangat kurang.

Usaha yang dilakukan biasanya dilakukan sendiri, baik dari mencari bahan bakunya, memproses, mengemas, dan memasarkannya. Produksinya tidak banyak, dalam memproduksinya baru dibantu oleh keluarga dan tidak diupah, juga belum dilakukan secara profesional.

Demikian juga pelaku usaha mikro ini belum mampu memasarkan produknya melalui pasar online secara mandiri. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa kendala, yakni kemampuan dari pelaku usaha mikro untuk membeli sarananya berupa telepon genggam android ada keterbatasan dana yang dimiliki, apabila mampu membeli telepon genggam android untuk mengoperasionalkan juga belum mampu secara SDM untuk memasarkan produknya melalui pasar daring.

"Pemerintah Kabupaten Kulon Progo membuat terobosan melatih anak-anak muda yang konsen terhadap UKM, sebanyak 50 orang untuk mengikuti pelatihan pemasaran daring untuk peningkatan kapasitas produk lokal bagi UKM di Kulon Progo," katanya.