Empat Politisi Sementara Menanggalkan Baju Partai

Senin, 16 Januari 2017 16:03:23 - Oleh : humas
 

Empat anggota Dewan Pewakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kulon Progo bersatu dalam menjaring aspirasi masyarakat di daerah pemilihan (DAPIL) I Kecamatan Temon, Wates dan Panjatan pada reses I tahun 2017. Yang unik keempat anggota Dewan tersebut tidah dari satu partai saja, keempatnya adalah Akhid Nuryati, SE, Edi Priyono, SIP dan Aris Syarifudin dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) serta Drs. Suharto dari Partai Golkar.
Keempat politisi tersebut sepakat dalam menjaring aspirasi masyarakat untuk sementara menanggalkan baju partai, karena menurut mereka dalam menjaring aspirasi lebih mengutamakan kepentingan rakyat. Dalam kesempatan tersebut mereka mengangkat tema Sinkronisasi Tatalaksana Anggaran Desa, tema tersebut dipilih sebagai upaya untuk memperbaiki perencanaan pembangunan desa.
Untuk membuka wawasan masyarakat dan perengkat desa, keempat wakil rakyat tersebut, Jumat (13/1) sampai dengan Minggu (15/1) menghadirkan pembicara Taufiq Prihadi dari BAPPEDA Kabupaten Kulon Progo dan Syarif Arifait dari Lembaga Strategi Nasional yang ahli dalam perencanaan desa. Dengan kehadiran dua narasumber tersebut diharapkan masyarakat dan perangkat desa dapat merencanakan pembangunan di wilayahnya masing-masing bisa lebih baik.
"Kami bermaksud untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terutama perangkat desa bahwa pembangunan dan kemajuan desa dimulai dari sisi perencanaan yang baik, inovatif dan kreatif serta sesuai dengan potensi desa masing-masing. Selain itu juga untuk menghindari terjadinya dobel anggaran dalam pembangunan di desa, sehingga tidak menjadi temuan BPK." tutur Ketua DPRD Kulon Progo, Akhid Nuryati.
Dalam kesempatan tersebut, Taufiq Prihadi memberikan gambaran kepada warga yang hadir bahwa dalam waktu dekat Kulon Progo, terutama wilayah lingkar bandara akan menjadi metropolitan. Hal ini karena adanya mega proyek bandara, JJLS, pelabuhan Tanjung Adikarto dan pengolahan pasir besi. Untuk itu masyarakat harus siap menerima perubahan tersebut dan harus sanggup bersaing sehingga tidak hanya sebagai penonton tetapi bisa ikut menjadi pemain.
"Masyarakat harus bisa merencanakan kebutuhannya untuk menjadi daya dukung bandara, jangan hanya menjadi penonton, harus menjadi pemain. Untuk itu perencanaan harus melihat kedepan, kreativitas dan inovasi sangat diperlukan." jelas Taufiq.
Sementara Syarif Arifait menjelaskan bahwa konsekwensi dari pembangunan adalah berdampak pada sosial dan budaya masyarakat setempat, untuk itu masyarakat harus mampu untuk menanggulanginya. Masyarakat harus bergeliat berubah untuk menangkap peluang yanga ada, hal ini bisa dilakukan jika perencanaan pembangunan desa disusun berdasarkan kebutuhan warganya, bukan berdasarkan keinginan apalagi keinginan segelintir perangkat desa.
"Desa harus mengetahui potensi desanya, kemudian menyusun perencanaan sesuai dengan potensi yang dimiliki desa tersebut kemudian ditetapkan menjadi Perdes. Jika hal itu dilakukan dengan benar maka akan lebih mudah untuk membangun desa dan potensi yanga ada akan semakin berkembang dengan baik." Syarif menerangkan.

« Kembali | Kirim | Versi cetak