Kembangkan mina padi, DPRD Pangandaran studi banding ke Kulon Progo

Rabu, 28 Februari 2018 17:52:23 - Oleh : Humas
 

Komisi II DPRD Kabupaten Pangandaran melaksanakan kunjungan kerja ke DPRD Kulon Progo, terkait pengembangan pengelolaan dan pengembangan budidaya ikan dengan sistem mina padi. Kunjungan kerja dipimpin Ketua Komisi II, Endang Hidayat, dan diterima langsung Ketua DPRD Kulon Progo, Akhid Nuryati, SE, di Ruang Sadewa, hari Selasa (27/2). Menanggapi kunjungan kerja hadir pula perwakilan dari Dinas Kelautan dan Perikanan, Priyo Handoko dan Wakhid.

Endang Hidayat mengatakan tertarik dengan budi daya sistem mina padi, karena sangat cocok untuk dikembangkan di Kabupaten Pangandaran. “Areal persawahan kami cukup luas untuk pengembangan sistem mina padi, sehingga perlu kiranya belajar dari Kabupaten Kulon Progo, karena sistem ini selain meningkatkan pendapatan petani juga mendukung program ketahanan pangan” kata Endang Hidayat dalam sambutannya.

Akhid Nuryati dalam tanggapannya mengatakan Kulon Progo juga tengah berusaha mengembangkan sistem mina padi, karena karena memiliki banyak kelebihan dan sesuai dengan kondisi geografis di Kulon Progo. “Selain itu saat Kulon Progo tengah menggalakkan program gemar makan ikan, sehingga sistem mina padi menjadi salah satu jalan untuk menjamin ketersediaan ikan” imbuhnya.

Sementara,  Priyo Handoko dari Dinas Kelautan dan Perikanan menyampaikan gambaran tentang sistem mina padi yang tengah dikembangkan di Kulon Progo. Produksi ikan di Kulon Progo tahun 2017 sekitar 13 ribu ton, dengan komposisi 70% ikan lele, 18% udang vaname, 10% gurami dan sisanya nila. Kawasan Sentra Produksi Perikanan (KSPP) di Kulon Progo berada di Panjatan, Pengasih, Nanggulan  dan Girimulyo.”Akan tetapi produksi ikan di Kulon Progo, mengalami penurunan hampir 2 ribu ton dari lahan sekitar 50 hektar sebagai akibat dampak dari pembangunan bandara” kata Priyo Handoko.

Berkenaan dengan mina padi yang dikembangkan di Kulon Progo, Priyo Handoko menjelaskan sistem yang digunakan di Kulon Progo yakni mina padi kolam dalam, dengan luasan kolam maksimal 20% dari lahan, kedalaman 80 cm dan genangan maksimal 30%. Ikan yang ditebar jenis nila karena harga jualnya sudah mendekati harga gurami. Tanaman padi yang ditanam varietas IR 64,  dengan model tanam jajar legowo dengan perbandingan 2:1. Masa pemeliharaan ikan mengikuti masa tanam padi kurang lebih 3 bulan. Dalam satu tahun pola tanam di Kulon Progo menggunakan sistem 2 kali tanam padi dan 1 kali palawija.

Menanggapi pertanyaan  Komisi II Kabupaten Pangandaran mengenai dampak kolam terhadap padi, Priyo Handoko menerangkan bahwa dengan dengan teknik yang tepat, sistem mina padi memberi banyak keuntungan. Kotoran ikan berfungsi sebagai pupuk, tanaman padi tidak memerlukan penyiangan karena gulma menjadi makanann ikan, tidak memerlukan pestisida dan herbisida serta bebas hama tikus. Pada saat panen diperoleh dua hasil yakni padi dan ikan. “Akan tetapi kendala yang dihadapi saat ini yaitu meyakinkan petani bahwa sistem mina padi memberi keuntungan yang lebih dibandingkan dengan sistem tanam konvensional. Untuk itu, saat ini kami lebih banyak memberikan sosialisasi dan penyuluhan bagi para petani” pungkasnya.

 

 

« Kembali | Kirim | Versi cetak