Komisi II minta DPP tinjau konsep Pasar Hewan Perpadu Pengasih

Komisi II DPRD Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mendesak Dinas Pertanian dan Pangan menata kembali konsep Pasar Hewan Terpadu Pengasih karena banyak pedagang yang mengeluh dagangannya tidak laku.

Ketua Komisi II DPRD Kulon Progo Priyo Santoso di Kulon Progo, Selasa, mengatakan Pasar Hewan Terpadu Pengasih perlu segera ada penyempurnaan sarana dan prasarana, seperti pelebaran jalan, hingga konsep pengembangan pasar tersebut.

"Di Pasar Burung Wates, pedagang jualan setiap pasaran hitungan Jawa Wage dan Pahing. Di
Pasar Hewan Terpadu Pengasih, hari pasarannya hanya Legi. Hal ini membuat omzet pedagang turun drastis," kata Priyo.

Priyo juga meminta konsep Pasar Hewan Terpadu Pengasih dipertegas, antara pedagang pasar klitikan, pasar burung, pasar ayam, dan pasar sapi, dan kambing. Untuk itu, Dinas Pertanian dan Pangan harus mendesain ulang hari pasaran Pasar Hewan Terpadu Pengasih.

"Harapannya, dagangan yang dijual di Pasar Hewan Terpadu Pengasih dapat terjual dengan baik," katanya.

Anggota Komisi II DPRD Kulon Progo Hamam Cahyadi justru mempertanyakan yang dimaksud pasar hewan terpadu yang diusung Dinas Pertanian dan Pangan. Ia mengaku belum melihat ada keterpaduan antara pasar klitikan, pasar burung, pasar ayam, dan pasar sapi, dan kambing.

"Di Pasar Hewan Terpadu Pengasih belum mencerminkan keterpaduan antarpasar yang direlokasi. Selain itu, belum merepresentasikan konsep keterpaduan," katanya.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kulon Progo Edy Priyono mengatakan pada saat dapat kerja dengan Dinas Pertanian dan Pangan, Komisi II telah menyampaikan dan berpesan supaya pemindahan pasar hewan harus diikuti turunannya. Pasar ayam dan klitikan tidak bisa dipisahkan, karena kultur pedagang dan pembeli sudah terbangun.

"Kami sudah memperingatkan Dinas Pertanian dan Pangan untuk berhati-hati dalam memindahkan pedagang, hal ini berkaitan dengan pendapatan masyarakat," katanya.

Sementara itu, anggota Komisi II DPRD Kulon Progo Septi Nur Anggraeni juga meminta Dinas Pertanian dan Pangan memberikan keringanan kepada pedagang supaya tidak membayar retribusi sampai pasar ramai.

"Pedagang juga mengeluh dagangan tidak laku, di sisi lain mereka harus membayar retribusi setiap harinya. Hal ini memberatkan mereka," katanya.